SETIAP orang atau kelompok boleh-boleh saja menciptakan permainan, baik orisinal atau modifikasi. Apalagi jika permainan itu semata-mata untuk berolahraga. Itulah yang terjadi di Desa/Kecamatan Wedarijaksa, Pati.
Permainan bola serok berhasil diwujudkan beberapa personel perangkat desa tersebut. Pemain dan penonton permainan bola itu sama-sama terhibur.
Permainan sepakbola itu memunculkan berbagai hal yang lucu. Sebab, pemain harus menggunakan alat bantu sarung untuk mengambil (nyerok) dan melemparkan bola. Pengadaan kelengkapan permainan juga tak membutuhkan banyak biaya, sehingga bisa dilakukan siapa saja.
Karena rata-rata perangkat Desa Wedarijaksa berusia di atas 30 tahun, kata Kepala Desa H Alwi Alaydrus, permainan bola itu tampaknya cocok bagi mereka untuk berolahraga pada hari Sabtu. Dengan pertimbangan, lapangan telah tersedia. Yakni, halaman depan balai desa. Itu merupakan lapangan bola voli. Permainan bola serok memang tepat dilakukan di lapangan bola voli.
"Bola yang kami gunakan juga bola voli. Jika jenuh dengan permainan bola itu, kami bisa cepat beralih ke bola voli. Tinggal memasang net," ujar dia.
Berhadapan
Dalam permainan kedua regu berhadapan. Setiap regu beranggota empat pemain, ditambah empat pemain cadangan. Satu kali game 30 menit.
Anggota regu hanya empat orang, karena setiap pemain harus memegang sudut sarung. Permainan harus dipimpin seorang wasit, karena ada bola mati, bola keluar, dan lemparan ke dalam.
Bola dinyatakan mati jika kedua regu yang berhadapan gagal menangkap bola untuk mereka mainkan. Bola dinyatakan keluar jika meninggalkan lapangan permainan. Wasit pun harus melemparkan bola ke dalam. Dan, kedua regu harus berebut bola untuk mereka serok dengan sarung.
Pelanggaran terjadi bila pemain kedua regu, baik satu maupun semua, membenturkan badan. Atau, pemain sengaja memegang atau menahan bola dengan tangan. Salah satu regu pemain dinyatakan menang atau kalah jika dalam pertandingan 2 x 30 menit ada selisih gol.
"Karena itu di kedua sisi lapangan dipasangi gawang lebar 2 m dan tinggi 1,5 m."
Dari sisi permainan, kata Alwi, bola serok mempunyai daya tarik tersendiri. Jika kelak memasyarakat, tentu tidak hanya para orang tua yang memainkan. Anak-anak pun pasti menyukai karena kegembiraan mewarnai permainan itu.
Karena itulah dia akan memfasilitasi dan mendorong perkembangan permainan itu di desa tersebut. Itu bukan hal yang sulit, karena lapangan bola voli berada di halaman balai desa. Jadi permainan itu bisa dilihat siapa saja yang lewat.
Apalagi di lingkungan balai desa itu ada Kantor Koramil dan Kantor Cabang Dinas Pendidikan. Tentu tak sulit mencari pemain bola serok. Jika kelak permainan berkembang, meski hanya dalam lingkup desa, dia akan mengadakan pertandingan di setiap RT.
Kini dia merasa sreg dengan permainan bola itu, karena cocok dijadikan olahraga masyarakat desa. Soal prestasi, jangan diharapkan. Karena, yang penting masyarakat di desa baik lelaki maupun perempuan sehat.
Permainan bola serok cocok pula dimainkan perempuan. "Sehat bagi warga masyarakat di pedesaan itu penting. Bukankah ada kata-kata bijak, di tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat?" katanya.

main sempak bola aja....
BalasHapus